Angkutan Darat

Jalan merupakan prasarana untuk menghubungkan antara suatu daerah terhadap daerah lainnya. Selain itu memperlancar dan mendorong timbulnya kegiatan perekonomian. Sebagai prasarana transportasi yang penting, dari segi kuantitas selain harus dapat menjangkau daerah yang terisolir, juga memperhatikan dari segi kualitas, yaitu keadaan/kondisi jalan serta rambu-rambu jalan. Sejalan dengan laju pembangunan jalan untuk semakin memudahkan mobilitas penduduk dan barang dari satu daerah ke daerah lain. Panjang jalan di Kabupaten Samosir pada tahun 2005 mencapai 774,48 km.

Angkutan Danau

Selain keindahan Danau Toba, perairan Danau Toba juga berfungsi sebagai prasarana transportasi air yang menghubungkan antar daerah, khususnya menghubungkan antara Pulau Samosir dengan daerah Toba. Jumlah kunjungan kapal, penumpang dan barang pada angkutan danau di Kabupaten Samosir tahun 2003 dari 5 dermaga masing-masing 4.717 kunjungan kapal; 115.667 penumpang dan 578,9 ton barang. Dermaga Tomok merupakan dermaga yang paling sibuk. Jumlah kunjungan kapal, penumpang dan barang di dermaga tersebut tahun 2005 masing-masing 2.053 kunjungan kapal, 38.290 penumpang dan 46,7 ton barang.


Pariwisata
Didukung oleh sumber daya alam dan keindahan Danau Toba, sektor pariwisata merupakan sektor potensial yang dapat menjadi andalan di Kabupaten Samosir dimasa mendatang. Perencanaan, pengembangan, penge-lolaan dan penyediaan sarana dan prasarana yang baik akan menjadikan Kabupaten Samosir sebagai tempat pariwisata yang indah. Jumlah hotel di Kabupaten Samosir tahun 2005 sebanyak 79 hotel, dengan 1.264 kamar dan 2.570 tempat tidur.Pos Pelayanan pos saat ini tidak hanya melayani jasa pengiriman surat–menyurat saja, sering dengan perkembangan jaman, pelayanan jasa pos jauh lebih kompleks dengan berbagai pelayanan yang ditawarkan oleh PT. (Persero) Pos Indonesia. Untuk memperluas jangkauan pelayanan, pemerintah telah banyak membangun kantor pos baru. Jumlah kantor pos di Kabupaten Samosir tahun 2005 sebanyak 5 unit. Surat kilat (khusus dan tercatat) yang dikirim dan diterima tahun 2005 masing-masing sebanyak 21.163 dan 33.448 surat.

 

Pasar

Pasar merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi jual beli barang maupun jasa. Pasar berfungsi sebagai tempat bagi masyarakat dalam memasarkan hasil-hasil pertanian, perkebunan dan lain-lain. Jumlah wajib retribusi (WR)pekan/pasar di Kabupaten Samosir tahun 2003 berjumlah 3.445 WR; yang terbesar pada 7 pekan/pasar/Kecamatan. Dari 3.445 WR, 16 diantaranya merupakan WR yang menempati kios dan terletak di pekan Simanindo. Ada 217 wajib retribusi yang menempati Balairung, 257 wajib retribusi yang menyewa tanah dalam pekan, 483 wajib retribusi yang menyewa tanah diluar pekan dan sebanyak 2.443 wajib retribusi Harian undung-undung.

 

Pelelangan Ikan

Tempat pelelangan ikan secara khusus di Kabupaten Samosir sampai saat ini belum tersedia, disebabkan hasil dari keramba apung sebagai tempat memproduksi ikan pada umumnya dipasarkan langsung ke Pekan-pekan yang ada di setiap Kecamatan dan diluar Kab. Samosir. Sedangkan para nelayan yang ada hanya terbatas untuk konsumsi keluarga.

 

Perbankan

Perbankan berfungsi sebagai penghimpunan dan penyalur dana, memegang peranan yang sangat penting dalam suatu perekonomian. Jumlah bank di Kabupaten Samosir tahun 2003 berjumlah 7 buah (baik bank kantor cabang maupun unit), terdiri dari 4 bank pemerintah, satu bank daerah dan dua bank perkreditan rakyat (BPR).

 

Sekolah

Sarana dan prasarana pendidikan di Sekolah Taman Kanak-Kanak pada tahun 2004 sebanyak 4 unit sekolah yang dikelola swasta dengan jumlah guru sebanyak 12 orang dan 197 orang muda. Pada tingkat sekolah dasar (SD), prasaran pendidikan sampai dengan tahun 2004 berjumlah 202 unit sekolah yang terdiri dari 195 sekolah dasar negeri, dan 7 sekolah dasar swasta dengan jumlah guru 1.156 orang, dan murid 24.170 orang. Rasio murid terhadap guru sebesar 20 siswa, dan rasio murid terhadap sekolah 119 orang, atau rata-rata 19 siswa per kelas. Secara umum rasio guru terhadap guru tidak merata per sekolah, diaman ada unit sekolah yang gurunya hanya satu atau dua orang. Pada tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) prasaran pendidikan yang sudah ada pada tahun 2004 berjumlah 30 unit sekolah, dengan guru 492 orang, dan murid 10.337 orang. Rasio murid terhadap guru sebesar 22 siswa, dan rasio murid terhadap sekolah 350 orang. Pada tingkat Sokolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) prasaran pendidikan yang sudah ada pada tahun 2004 berjumlah 18 sekolah, dengan guru 219 orang, dan murid 2.281 orang. Rasio murid terhadap guru sebesar 20 siswa, dan rasio murid terhadap sekolah 338 orang.

 

Rumah Sakit dan Puskesmas

Secara keseluruhan sarana kesehatan di Kabupaten Samosir masih dominan di kelolah pemerintah, seperti rumah sakit dan puskesmas dengan jumlah rumah sakit 1 unit, puskesmas 10 unit (Kecamatan sitio-tio tidak ada) dan 43 unit polindes yang tersebar di tiap kecamatan dan desa/kelurahan seperti pada tabel dibawah ini. Sedangkan sarana kesehatan swasta rumah sakit 1 unit dan yang terbanyak adalah 11 unit toko obat.

 

Perumahan

Penyediaan perumahan merupakan salah satu masalah yang masih memerlukan penanganan secara serius, baik mengenai kelengkapan sarana perumahannya maupun kelengkapan fasilitas lingkungannya. Rumah yang layak sebaiknya mampu memenuhi syarat kesehatan bagi penghuninya. Demikian pula letaknya dengan fasilitas social dan fasilitas seperti : sekolah, tempat berobat, pasar dan tempat rekreasi. Dengan kondisi seperti ini, kondisi perumahan beserta lingkungannya dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Untuk mengetahui kondisi perumahan dan lingkungan di Kabupaten Samosir, maka akan disajikan table-tabel yang menggambarkan keadaan tersebut melalui data tentang keadaan dan fasilitas rumah yang ditempati maupun dimiliki seperti : luas lantai dan jenisnya, jenis dinding, atap serta fasilitas air minum, penerangan dan sanitasinya.

10.1 Lantai Rumah Luas lantai merupakan salah satu indicator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat karena luas lantai merupakan salah satu aspek yang dapat menggambarkan keadaan suatu tempat tinggal. Luas lantai terkait dengan tingkat penghasilan rumah tangga. Semakin tinggi pula tingkat ekonomi rumah tangga penghuni rumah tersebut. Perubahan secara relatif luas lantai rumahtangga dapat dilihat dari hasil Susenas 2003 dimana sebagian besar rumahtangga menempati rumah dengan luas lantai 20-99 m2 (98,40 persen). Dibandingkan dengan kondisi perumahan pada tahun 2002, persentase rumahtangga yang menempati luas lantai di atas 100 m2 pada tahun 2003 tidak mengalami perubahan yang signifikan, perubahan yang signifikan terjadi untuk kelompok luas lantai 20-49 m2 yakni dari 54,40 persen pada tahun 2002 menjadi 57,70 persen pada tahun 2003. Disamping luas lantai, yang perlu menjadi perhatian adalah jenis lantainya. Lantai yang sudah ditutupi dengan semen/bata, ubin/tegel, marmer, atau sejenisnya dapat dikatakan kondisinya sudah layak/sehat. Pada saat survei ini dilaksanakan sekitar 98,00 persen rumah di Kabupaten Samosir lantainya sudah tidak dari tanah lagi. Keadaan ini mengalami penurunan sedikit dibandingkan dengan tahun 2002 yang persentasenya menjadi 99,30 persen.

10.2 Penggunaan Jenis Dinding dan Atap Rumah Seperti halnya kepemilikan barang rumahtangga lainnya, penggunaan jenis dinding dan atap rumah, disamping luas dan jenis lantai tentunya, dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan pemiliknya. Pada tahun 2003 persentase rumahtangga menurut jenis dinding, terlihat bahwa di Kabupaten Samosir, kayu/papan paling banyak digunakan sebagai dinding rumah, yaitu sebesar 89,90 persen, kemudian tembok sebanyak 12,30 persen. Sedangkan kelebihan masih menggunakan bambu atau bahan lainnya untuk dinding rumahnya. Selanjutnya penggunaan seng/asbes untuk atap secara umum palin benyak digunakan rumahtanga di Kabupaten Samosir, yaitu 98,80 persen rumahtangga, meningkat dibandingkan tahun 2002 yan jumlahnya mencapai 96,30 persen. Secara ekonomi, seng/asbes memang lebih murah dibandingkan genteng, namum pemilihan seng/asbes sebagai atap di Samosir memang tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat setempat.

 

10.3 Sumber Penerangan Fasilitas perumahanyang digunakan oleh rumahtangga dapat mencerminkan tingkat kesehatan rumah dan lingkungannya. Pada tahun 2003 sekitar 94,10 persen rumahtangga sudah menggunakan listrik untuk penerangan. Perlu menjadi bahan pertimbangan bagi yang berwenang dalam masalah kelistrikan untuk dapat memperluas jangkauan jarinan listriknya agar seluruh masyarakat dapat menikmatinya.

 

10.4 Sumber Air Minum Pemanfaatan air bersih oleh rumahtangga sebagai sumber air minum maupun untuk keperluan sehari-hari merupakan salh satu kebutuhan vital yang harus dipenuhi secara layak.kulaitas air yang digunakan terkait dengan tingkat kesehatan. Oleh sebab itu pada saat mencari tempat tinggal, biasanya yang menjadi perhatian utama adalah keadaan airnya. Dibanding dengan sumber air lainnya, air leding merupakan sumber air yang paling baik kulaitasnya. Air yang berasal dari pompa, sumur, sungai, hujan, dan sebagainya, diangap kurang baik karena kemungkinan tercemarnya relatif cukup besar. Baru sekitar 5,20 persen rumahtangga yang menggunakan air ledeng ebagi sumber air umumnya. Sumber air minum yang paling banyak adalah mata air terlindung (36,00), mata air tak terlindung (22,00 persen), lalu sumur terlindung dan lainnya (11,40). Kondisi tesebut sangat dimungkingkan mengingat kondisi geografis Kabupaten Samosir merupakan daerah perbukitan yang sulit dijangkau oleh air ledeng, dan umumnya masyarakat daerah ini masih menggunakan air sungai dan danau.

Search